Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia <p><strong>Metanoia</strong> merupakan Jurnal Pendidikan Agama Kristen dengan Nomor ISSN <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1579578818">2716-2885</a> (Online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal. Jurnal ini menerbitkan hasil publikasi karya ilmiah dalam penelitian bidang Pendidikan Agama Kristen.</p> id-ID <h2>pen Access Policy</h2> <p><img src="https://journals.umkt.ac.id/public/site/images/halim/OpenAccess1.png" /></p> <p>Jurnal ini menyediakan akses terbuka secara langsung dengan prinsip bahwa penelitian tersedia secara bebas untuk umum demi mendukung pertukaran pengetahuan global yang lebih besar. Artikel yang diterbitkan di Alucio Dei: Jurnal Teologi akan menjadi artikel Akses Terbuka yang didistribusikan di bawah persyaratan dan ketentuan Lisensi Atribusi Creative Commons.</p> <p>Penulis memegang hak cipta dan memberikan jurnal hak publikasi pertama dengan karya yang dilisensikan secara bersamaan di bawah <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/deed.id">Attribution 4.0 International (CC BY-SA 4.0)</a> yang memungkinkan orang lain untuk berbagi — menyalin dan mendistribusikan ulang materi dalam media atau format apa pun dan menyesuaikan — remix, ubah, dan membangun materi untuk tujuan apa pun, bahkan secara komersial dengan pengakuan kepenulisan karya dan publikasi awal di jurnal ini.</p> lodenelias3@gmail.com (Elias Loden) yusaknoven7@gmail.com (Yusak Noven Susanto) Sat, 31 Jan 2026 15:25:17 +0700 OJS 3.3.0.8 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI STRATEGI MISIOLOGIS: PERAN GEMBALA DALAM MEMBENTUK NALAR TEOLOGIS JEMAAT BERMISI DAN TANGGUH TERHADAP INTOLERANSI https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/218 <p>Dalam era globalisasi yang sarat dengan perpindahan budaya dan ideologi membawa ketegangan sosial dan keberagaman identitas, gereja menghadapi tantangan serius dalam membentuk jemaat yang tangguh secara teologis. Intoleransi yang berkembang baik secara terselubung maupun terang-terangan menjadi ancaman bagi masyarakat sosial dan kesaksian iman Kristen. Namun banyak jemaat mengalami krisis nalar teologis yang membuat mereka mudah terjebak dalam fanatisme sempit atau pasif terhadap realitas sosial. Fenomena meningkatnya polarisasi dan radikalisme berbasis agama di ruang publik dan digital mempertegas urgensi pembentukan daya tangkal iman yang kokoh dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat digunakan sebagai strategi misiologis oleh gembala dalam membentuk nalar teologis jemaat yang tangguh menghadapi intoleransi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa perlunya reaktualisasi peran gembala dalam konteks misiologis gereja masa kini maka pendidikan agama kristen sebagai strategi pembentukan nalar teologis dan juga nalar teologis sebagai daya tahan jemaat terhadap intoleransi. Sehingga gembala dapat mengintegrasi pendidikan Kristen, misiolog, tentunya gembala berperan penting sebagai pendidik iman yang membekali jemaat untuk memahami, merespons, dan menyikapi intoleransi secara teologis dan misioner</p> Aji Suseno, Yohana Fajar Rahayu, Yonatan Alex Arifianto Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/218 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENANAMKAN NILAI ETIKA KRISTEN ERA DIGITAL SOCIETY 5.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/287 <p>Perkembangan Digital Society 5.0 telah membawa perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pendidikan agama. Transformasi digital yang masif menghadirkan tantangan etis baru bagi peserta didik, seperti relativisme moral, krisis tanggung jawab, serta degradasi nilai kemanusiaan di ruang digital. Dalam situasi tersebut, Pendidikan Agama Kristen dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya mentransmisikan pengetahuan iman, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran etis. Fenomena meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan peserta didik sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan refleksi moral yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis guru Pendidikan Agama Kristen dalam menanamkan nilai etika Kristen yang kontekstual dan transformatif di era Digital Society 5.0. Menggunkan metode &nbsp;kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, maka disimpulkan bahwa etika Kristen merupakan fondasi teologis yang esensial dalam pendidikan di era Digital Society 5.0. Etika Kristen berakar pada wahyu Allah dan teladan Kristus yang menjadi fondasi teologis bagi pembentukan karakter dan pengambilan keputusan moral, termasuk dalam konteks pendidikan di era Digital Society 5.0. Di tengah karakteristik masyarakat digital yang ditandai oleh kecerdasan buatan, konektivitas tanpa batas, dan arus informasi yang masif, peserta didik menghadapi tantangan etis seperti degradasi nilai, penyalahgunaan teknologi, dan krisis identitas moral. Oleh karena itu, guru Pendidikan Agama Kristen berperan strategis sebagai pendidik etika digital yang menuntun peserta didik untuk mengintegrasikan iman Kristen dengan sikap kritis, bertanggung jawab, dan beretika dalam kehidupan digital.</p> Elisa Nimbo Sumual, Yohana Fajar Rahayu Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/287 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMBENTUK KETAHANAN IMAN REMAJA BROKEN HOME: STUDI KASUS DI ROTE NDAO https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/288 <p>Fenomena keluarga <em>broken home</em> merupakan persoalan sosial yang semakin meningkat dan berdampak signifikan terhadap kehidupan remaja, termasuk pada aspek spiritual dan ketahanan iman. Di Kabupaten Rote Ndao, meningkatnya tren perceraian dan disfungsi keluarga menempatkan remaja pada kondisi rentan, seperti krisis identitas, luka emosional, serta melemahnya keterlibatan dalam kehidupan iman Kristen. Permasalahan utama yang muncul adalah terganggunya proses pembentukan iman yang seharusnya dimulai dari keluarga sebagai komunitas iman pertama, sehingga remaja mengalami kesulitan memaknai Allah, iman, dan kehidupan rohani secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam membentuk ketahanan iman remaja <em>broken home</em> melalui studi kasus di Kabupaten Rote Ndao. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi terhadap proses pembelajaran dan kegiatan pembinaan iman, serta studi dokumentasi pada gereja dan/atau sekolah Kristen. Subjek penelitian meliputi remaja broken home, guru Pendidikan Agama Kristen, serta pendeta atau pembina remaja yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan model analisis interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PAK yang efektif dalam membentuk ketahanan iman remaja broken home mencakup pendekatan relasional, pendampingan iman yang empatik, integrasi pengalaman hidup remaja dalam pembelajaran, serta keterlibatan aktif gereja sebagai komunitas pendukung. Strategi-strategi tersebut terbukti membantu remaja membangun pemaknaan iman yang lebih tangguh, reflektif, dan relevan dengan realitas hidup mereka.</p> Jacob Messakh Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/288 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMBENTUK KEHIDUPAN SOSIAL DAN MORAL KELUARGA DEWASA https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/284 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Pendidikan Agama Kristen (PAK) terhadap kehidupan sosial dan moral keluarga dewasa. Dalam konteks kehidupan modern yang ditandai oleh arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan pergeseran nilai moral, keluarga Kristen menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan iman serta nilai-nilai Kristiani. Pendidikan Agama Kristen dipandang sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter, etika, dan tanggung jawab sosial anggota keluarga, khususnya orang dewasa sebagai teladan iman dalam rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memahami secara mendalam peran PAK dalam kehidupan keluarga dewasa. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap keluarga Kristen yang aktif mengikuti pembinaan Pendidikan Agama Kristen. Analisis data dilakukan secara induktif dengan menerapkan triangulasi sumber dan metode guna menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen berpengaruh signifikan dalam membentuk kehidupan sosial dan moral keluarga dewasa, terlihat dari terwujudnya relasi keluarga yang harmonis, sikap saling menghargai, kepedulian sosial, serta penerapan nilai-nilai moral Kristen seperti kasih, kejujuran, pengampunan, kesucian, dan integritas. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen berperan sebagai fondasi utama dalam membentuk keluarga dewasa yang beriman, bermoral, dan mampu menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Pendidikan Agama Kristen, kehidupan sosial, kehidupan moral, keluarga dewasa.</p> <p>&nbsp;</p> Sarah Gracia Lumbantobing, John Asamau, Yafarman Zai Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/284 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 KOMPETENSI KEPRIBADIAN YESUS SEBAGAI GURU MENURUT INJIL MATIUS https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/205 <p>Personality competency is a personal ability that reflects a personality that is steady, stable, mature, wise and authoritative, being a role model for students, and having noble character. The focus of this research is Jesus' personality competence as a teacher according to the Gospel of Matthew. The method used is a qualitative approach with a type of library research supported by Bible exposition. The results obtained were that the personality competency that Jesus possessed was having good morality and spirituality: fear of God, love for others, holy living, integrity, having a stable soul, having the fruit of the spirit; have character: be a role model, have noble character, be steady and stable, pay attention to many people, mature attitude; had authority: His ministry was wonderful, fearless, of God; work creatively, innovatively and pray; and focus on the goal: commitment to the call, making all nations His disciples, carrying out the mission of the call.</p> Nelly Nelly, Rut Tina Yoseva, Daud Manno Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/205 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 AKTUALISASI DIRI SEBAGAI IDENTITAS PENDIDIK KRISTEN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER UNGGUL PESERTA DIDIK https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/231 <p>Identitas pendidik Kristen merupakan bagian vital mempengaruhi pengembangan dan potensi peserta didik. Pendidik Kristen harus mampu memahami tugasnya dalam memperdayakan peserta didik mencapai sumber daya manusia unggul pengetahuan dan karakter. Artikel ini bertujuan memaparkan hasil kajian mengenai aktualisasi diri siswa: suatu panduan bagi identitas guru PAK dalam menstimulasi karakter unggul. Kajian ini terdiri dari pengumpulan dan seleksi literatur yang relevan dengan identitas pendidik Kristen menstimulasi karakter unggul peserta didik. Hasil kajian menunjukkan terdapat dampak positif identitas guru menstimulasi karakter unggul peserta didik. Integrasi pengajaran dan identitas guru perlu konsisten sehingga manfaatnya berakibat pada mutu pembelajaran dan integritas guru yang membudaya.</p> Melyarmes Hodner Kuanine, Phidolija Tamonob, Yunita Edrodanti Tefa, Sabaria Zega Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/231 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 PENGEMBANGAN LITERASI DIGITAL SEBAGAI STANDAR PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI ERA DIGITAL https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/283 <p>Pada era digital sekarang ini, profesionalisme guru dihadapkan dengan sebuah tantangan. Guru dituntut untuk tidak hanya menguasai materi, namun juga perlu memiliki literasi digital yang kuat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengindentifikasi tantangan serta hambatan literasi digital yang sedang dihadapi oleh guru pendidikan agama Kristen yang profesional. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, penelitian ini menganalisis berbagai sumber seperti buku, jurnal dan artikel. Hasil dari penelitian ini di temukan &nbsp;bahwa profesionalisme guru pendidikan agama Kristen di era digital melingkupi kemampuan pedagogis, penguasaan teknologi serta dimensi etika dan relasi. Tantangan yang dihadapi adalah dengan adanya risiko distaksi digital, penyebaran berita palsu serta kesenjangan digital. Lalu peluangnya yaitu adanya akses materi yang lebih dalam serta metode pembelajaran yang lebih interaktif. Kolaborasi yang terjadi antara guru dan orang tua serta komunitas merupakan sebuah kunci dalam mendukung profesionalisme seorang guru pendidikan agama Kristen. Dengan demikian, penelitian ini berimplikasi pada perlunya mengembangkan kompetensi dari guru pendidikan agama Kristen secara terus-menerus, serta pelatihan dalam penggunaan teknologi dan juga pengintegrasian nilai-nilai Kristiani agar guru pendidikan agama Kristen dapat menjadi teladan yang membimbing dengan efektif&nbsp; dalam derasnya arus informasi digital.</p> Esterina Yunita Adu, Yonatan Alex Arifianto Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/283 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 TINJAUAN TEOLOGIS "ANAKKU MILIK PUSAKAKU" MENURUT MAZMUR 127:3: IMPLEMENTASI PERAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK MASA KINI DI ERA 5.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/286 <p>Keluarga merupakan lembaga pertama dalam dunia yang Allah bentuk, itu sebabnya keluarga menjadi tumpuan pertama bagi setiap kehidupan anak. Dalam kehidupan berkeluarga, anak menjadi hadiah indah yang melengkapi keutuhan keluarga &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;sebab anak adalah anugerah dan berkat dari Allah sebagai upah dari hasil pernikahan. Orang tua memiliki tugas untuk mendidik anak sehingga anak dapat bertumbuh sesuai seperti apa yang diharapkan oleh orang tuanya. Dengan melihat bahwa anak itu sangat berharga dalam keluarga maka artikel ini bertujuan untuk menunjukkan peran orang tua dalam mendidik anak dengan benar berdasarkan makna teologis “anakku milik pusakaku” yang dikaji dari Mazmur 127:3. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menyelidiki berbagai literatur seperti buku, jurnal, atau kamus untuk menguraikan dan mendeskripsikan secara jelas peran orang tua dalam mendidik anak. Hasil yang ditemukan adalah bahwa peran orang itu meliputi Pertama, mengkaji konsep teologi kalimat “anakku milik pusakaku” menurut Mazmur 127:3. Kedua, menemukan prinsip penting makna “anakku milik pusakaku dari Mazmur 127:3 untuk diimplementasikan dalam pendidikan anak. Ketiga, peran orang tua dalam mendidik anak menjadi pribadi yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.</p> Paulus Kunto Baskoro Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/286 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 KODE ETIK GURU SEBAGAI FONDASI PEMBENTUKAN KARAKTER DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI ERA PERUBAHAN SOSIAL https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/282 <p>Perubahan sosial yang cepat di era digital telah membawa dampak signifikan terhadap pola pikir, perilaku, dan nilai-nilai moral peserta didik, termasuk dalam konteks pendidikan agama Kristen. Dalam situasi ini, guru Pendidikan Agama Kristen dituntut tidak hanya menjadi pengajar pengetahuan teologis, tetapi juga teladan moral yang berlandaskan pada kode etik profesi. Kode etik guru berfungsi sebagai pedoman normatif yang menuntun perilaku dan tanggung jawab profesional, sekaligus menjadi dasar dalam pembentukan karakter siswa yang beriman dan berintegritas. Fenomena yang muncul dewasa ini menunjukkan adanya pergeseran nilai moral di kalangan generasi muda yang terpapar budaya instan dan individualistik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran kode etik guru sebagai fondasi pembentukan karakter dalam pendidikan agama Kristen di tengah dinamika perubahan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka dan analisis kontekstual dapat disimpulkan bahwa bahwa kode etik guru memiliki peran fundamental dalam menjaga integritas, membentuk karakter siswa, serta mempertahankan ketahanan pendidikan Agama Kristen di tengah dinamika perubahan sosial. Dalam perspektif teologi Kristen, kode etik bukan sekadar norma profesional, tetapi panggilan spiritual yang merefleksikan nilai kasih, kejujuran, dan tanggung jawab. Implementasi yang konsisten menjadikan pendidikan Kristen tetap relevan, transformatif, dan berakar pada iman yang menuntun pembentukan karakter Kristus dalam diri peserta didik.</p> Ruhut Parningotan Tambunan, Joni Leha Hinggi Ranja, Reni Triposa Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/282 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 KODE ETIK GURU PAK SEBAGAI PILAR PENDIDIKAN KARAKTER DAN MORALITAS ANAK USIA DINI DI ERA DIGITAL https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/293 <p>Perkembangan era digital telah menghadirkan tantangan baru dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembentukan karakter dan moralitas anak usia dini. Arus informasi yang begitu deras melalui gawai dan media sosial sering kali mempengaruhi pola pikir, perilaku, serta nilai-nilai etika anak sejak usia dini. Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki tanggung jawab strategis untuk menjaga kemurnian nilai iman sekaligus menanamkan moralitas yang kokoh pada anak-anak yang sedang berada pada masa pembentukan karakter. Fenomena yang tampak adalah munculnya degradasi moral di kalangan anak, seperti menurunnya rasa empati, kecenderungan individualistis, hingga sikap kurang menghargai orang lain akibat pengaruh digital yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran kode etik guru PAK sebagai pilar utama dalam membangun pendidikan karakter dan moralitas anak usia dini di tengah tantangan era digital. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa hakikat dan definisi kode etik guru PAK menegakkan posisinya sebagai pedoman bersumber dari nilai iman dan integritas Kristiani. Kode etik berfungsi sebagai dasar profesionalisme guru dalam mendidik anak usia dini sekaligus memperkuat peran guru PAK sebagai teladan dalam pembentukan karakter Kristiani. Dalam pembinaan moral anak, kode etik guru PAK menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan nilai kasih, kejujuran, dan tanggung jawab. Di era digital, anak usia dini menghadapi tantangan berupa penurunan moral, sikap individualistis, serta berkurangnya kualitas interaksi sosial, sehingga keberadaan kode etik menjadi semakin penting untuk dijadikan pedoman.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> Hanniel Jehoshua van der Krogt Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/293 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 PERAN DAN AKTUALIASI KOMPETENSI SOSIAL GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI EKSTRINSIK SISWA PADA PELAJARAN PAK DI SDS MARANATHA https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/294 <p>Kompetensi sosial merujuk pada kemampuan pendidik untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif dengan siswa, rekan tenaga pendidik, orang tua atau wali murid, serta masyarakat sekitar. Kompetensi sosial meliputi keterampilan berinteraksi, keterampilan berorganisasi, dan memecahkan masalah kehidupan sosial. Bagi seorang guru, keterampilan ini sangat penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis dalam proses pembelajaran. Motivasi ekstrinsik, yang berasal dari faktor luar seperti keluarga atau lingkungan. Motivasi ini dapat muncul melalui dorongan, perintah, atau paksaan yang dapat meningkatkan semangat siswa untuk belajar dan siswa dapat bersaing. Ketika kompetensi sosial dan motivasi ekstrinsik digabungkan, keduanya menjadi elemen yang sangat mendukung efektivitas proses pembelajaran, terutama dalam konteks pendidikan agama Kristen. Dalam hal ini, guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) berperan sebagai fasilitator dan motivator yang mampu menyampaikan ajaran agama Kristen kepada anak didik dengan otoritas dari Allah secara jelas dan efektif kepada siswa. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan metode yang berusaha memberikan gambaran dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa yang ada. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi untuk memahami kompetensi sosial guru di SDS Maranatha serta dampaknya terhadap motivasi ekstrinsik siswa. Setelah data dikumpulkan, peneliti menganalisisnya dengan cara mereduksi data dan menyajikan hasil analisis dalam bentuk deskripsi yang memudahkan interpretasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan kompetensi sosial guru memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi ekstrinsik siswa, khususnya dalam pembelajaran PAK di SDS Maranatha.</p> Fenny E. Nababan Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/294 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700