https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/issue/feed Metanoia 2026-06-15T12:59:27+07:00 Elias Loden lodenelias3@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>Metanoia</strong> merupakan Jurnal Pendidikan Agama Kristen dengan Nomor ISSN <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1579578818">2716-2885</a> (Online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal. Jurnal ini menerbitkan hasil publikasi karya ilmiah dalam penelitian bidang Pendidikan Agama Kristen.</p> https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/312 PENDEKATAN PEDAGOGIK TRANSFORMATIF DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGHADAPI TANTANGAN GENERASI DIGITAL ERA SOCIETY 5.0 2026-03-30T11:17:22+07:00 Ruhut Parningotan Tambunan ruhutparningotantam@gmail.com Reni Triposa renitriposa@sttsangkakala.ac.id Yonatan Alex Arifianto arifianto.alex@gmail.com <p>Perkembangan teknologi digital dalam kerangka Society 5.0 telah membentuk pola pikir, cara belajar, di generasi digital ini. Sehingga pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan relevansi nilai kekristenan. Terlebih model pembelajaran PAK yang masih berfokus pada transmisi pengetahuan dan hafalan yang sering gagal menjawab kebutuhan eksistensial peserta didik yang hidup dalam budaya kontemporer ini, sehingga muncul jarak antara nilai iman dan realitas kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka untuk merumuskan pedagogi transformatif yang relevan bagi generasi digital. Hasil penelitian mejelaskan bahwa generasi digital menghadirkan pergeseran antropologi pembelajar yang menuntut pemahaman sosial, kultural, dan spiritual baru. Sementara itu, pedagogi transformatif menyediakan kerangka teologis dan edukatif berbasis refleksi kritis, dialog, dan pembentukan karakter. Dimana, integrasi teknologi sebagai ruang transformasi memperkaya pengalaman iman, sementara rekonstruksi praktik PAK di era Society 5.0 menjembatani dunia digital dan nilai Kristiani, menciptakan pendidikan yang kontekstual, relevan, dan transformatif bagi pembentukan identitas serta spiritualitas generasi masa kini.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/349 INTEGRASI GOOGLE WORKSPACE SEBAGAI EKOSISTEM KOINONIA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN 2026-04-27T13:05:54+07:00 Theo Pilus Candra theoweb.dev@gmail.com Eiodia Eveline Permata Sari renjanaarga@gmail.com Felixtian Teknowijoyo theodores84@gmail.com <p>Pendidikan Agama Kristen (PAK) konvensional sering terjebak dalam pedagogi individualistik yang menggerus nilai persekutuan (<em>koinonia</em>). Di sisi lain, adopsi teknologi <em>Google Workspace for Education</em> (GWfE) sering kali terbatas pada fungsi administratif tanpa refleksi teologis. Penelitian ini bertujuan meninjau fitur kolaborasi <em>real-time</em> dalam GWfE sebagai "ruang liturgis digital" untuk memulihkan <em>koinonia</em>. Menggunakan metode kualitatif deskriptif yang berdialog dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky dan eklesiologi Bonhoeffer, penelitian menemukan bahwa teknologi <em>cloud</em> dapat menggeser paradigma belajar dari isolasi menuju interdependensi tubuh Kristus. Fitur seperti <em>co-authoring</em> terbukti bukan sekadar alat teknis, melainkan sarana formasi rohani yang melatih kerendahan hati dan kecerdasan kolektif. Implikasinya, guru PAK dipanggil bertransformasi dari penyampai informasi menjadi arsitek komunitas digital.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/347 REKONSTRUKSI ETIKA ABORSI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN: ANALISIS TEOLOGIS-YURIDIS KASUS EDWARD ARMANDO 2026-04-27T13:25:52+07:00 Jeffry Leonard P Tobing rokijef14@gmail.com Laurenz Enjelina Siagian laurenzsiagian1@gmail.com <p>Aborsi merupakan persoalan etika yang kompleks karena melibatkan dimensi moral, teologis, hukum, dan sosial secara simultan dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen, aborsi dipandang sebagai pelanggaran terhadap nilai kesucian hidup yang berakar pada iman akan Allah sebagai pemberi kehidupan. Namun, pendekatan etika yang diajarkan dalam Pendidikan Agama Kristen seringkali masih bersifat normatif dan belum sepenuhnya mampu menjawab dinamika persoalan aktual secara kontekstual dan aplikatif. Fenomena kasus dugaan tindak pidana aborsi yang melibatkan dr. Edward Armando menunjukkan adanya ketegangan antara nilai moral, praktik medis, dan regulasi hukum yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi etika aborsi dalam Pendidikan Agama Kristen melalui analisis teologis-yuridis terhadap kasus tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan analisis normatif teologis-yuridis berbasis literatur dan dokumen hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi etika aborsi perlu mengintegrasikan prinsip teologis tentang kesucian hidup dengan kerangka hukum positif secara kritis dan kontekstual. Selain itu, pendekatan etika yang dikembangkan harus bersifat transformatif dan dialogis agar relevan dengan realitas sosial peserta didik. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen dapat berperan strategis dalam membentuk kesadaran moral yang reflektif, bertanggung jawab, dan berlandaskan iman Kristen dalam menghadapi isu aborsi.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/345 DARI IMAN MENUJU AKSI: STRATEGI PENGUATAN CAPACITY BUILDING MELALUI PENDIDIKAN KRISTEN BERMAKNA 2026-04-16T14:15:19+07:00 Viktor Deni Siregar viktordenisiregar@gmail.com Haposan Simanjuntak haposanmei2018@gmail.com Sri Juniati Sihombing ssrijuniatii@gmail.com Theresya Novelina br Lumban Gaol theresyanovelina78@gmail.com Rosna Galingging rosnagalingging54@gmail.com Jelita Marito Malau malaujelita196@gmail.com <p><em>Christian education is often perceived as merely imparting doctrine and religious knowledge, thus failing to address the need for individual capacity development to face the challenges of the times. This situation creates a research gap between the ideal of transformative Christian education and practices that still focus solely on cognitive aspects. However, strengthening capacity building is crucial to producing Christian leaders who are not only faithful but also competent, possess integrity, and are able to make a real contribution to society. This article aims to analyze how meaningful Christian education can be used as a strategy to strengthen capacity building, by integrating faith as a spiritual foundation and action as its practical manifestation. This research uses a qualitative approach using literature studies on various theories of Christian education, capacity building, and practices of meaningful education. The analysis was conducted conceptually to formulate a framework that connects faith, the process of meaningful Christian education, and the outcomes in the form of increased individual and institutional capacity. The results of the study indicate that meaningful Christian education, which is holistic, contextual, and participatory, can bridge the gap between faith and action. Thus, Christian education not only transmits spiritual values ​​but also strengthens the capacity of students to prepare them for change and to exercise leadership in society.</em></p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/307 PENANAMAN NILAI-NILAI TOLERANSI BERAGAMA MELALUI MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI SD NEGERI SUMOGAWE 3 2026-03-30T10:36:21+07:00 Marvian Pali Hinggi Ranja marviankolo05@gmail.com Reni Triposa renitriposa6@gmail.com Yonatan Alex Arifianto arifianto.alex@gmail.com <p>Toleransi merupakan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan tanpa memandang etnis, gender, penampilan, budaya, kepercayaan, kemampuan, maupun orientasi seksual. Individu yang toleran mampu menerima keberagaman pandangan dan keyakinan, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, toleransi tidak berarti membenarkan tindakan yang menyimpang dari nilai kemanusiaan, seperti kekejaman, fanatisme, dan rasisme. Dalam konteks sosial, budaya, dan agama, toleransi dipahami sebagai sikap dan tindakan yang menolak segala bentuk diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda atau minoritas di tengah masyarakat. Melalui penerapan nilai toleransi, kehidupan sosial dapat terjalin secara harmonis, damai, dan berkeadilan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan nilai toleransi di lingkungan sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik studi literatur dan wawancara. Studi literatur dilakukan untuk mengkaji konsep-konsep teoretis mengenai toleransi, sedangkan wawancara dilakukan dengan narasumber, termasuk Adi, di SD Negeri Sumogawe 3, guna memperoleh gambaran nyata tentang praktik toleransi dalam interaksi sehari-hari di sekolah. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya penanaman nilai toleransi sejak usia dini.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/340 STUDI LITERATUR TENTANG PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF SEKULER DAN KRISTEN 2026-04-14T09:06:43+07:00 Jon Jon bongminj@yahoo.com <p>Perspektif pendidikan sekuler dan Kristen merupakan dua pendekatan yang berbeda serta memiliki karakteristik masing-masing, sehingga sering menimbulkan pertanyaan mengenai pendekatan mana yang dianggap lebih unggul atau lebih relevan dalam praktik pendidikan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui lebih mendalam dan spesifik mengenai apa itu pendidikan dalam perspektif sekuler dan kristen. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah Pendidikan Kristen dan sekuler menawarkan pendekatan yang berbeda dalam membentuk individu. Pendidikan Kristen berlandaskan iman dan bertujuan membentuk manusia yang hidup sesuai kehendak Allah, sedangkan pendidikan sekuler mengedepankan rasionalitas dan pengembangan manusia secara umum tanpa dasar religius. Keduanya memiliki kontribusi tersendiri dalam membangun generasi masa depan, tergantung pada konteks dan nilai yang dianut oleh masyarakat atau institusi pendidikan</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/367 KRISIS IDENTITAS DAN DEGRADASI KARAKTER GENERASI Z: UPAYA GURU PENDIDIKAN KRISTEN SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI GENERASI Z DALAM ERA DISRUPSI 2026-05-11T10:25:54+07:00 Abigain Katoda abikatoda2@gmail.com <p>Era disrupsi digital memengaruhi identitas dan karakter Generasi Z secara signifikan. Media sosial mendorong krisis moral, individualisme, dan lemahnya spiritualitas remaja Kristen. Pendidikan Kristen menghadapi tantangan membentuk generasi beriman di tengah budaya digital modern. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran guru Pendidikan Kristen sebagai agen transformasi karakter Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap jurnal, buku, dan sumber teologis relevan. Hasil penelitian menunjukkan Generasi Z mengalami krisis identitas akibat pengaruh budaya digital dan lemahnya pembinaan spiritual. Guru Pendidikan Kristen berperan membangun karakter melalui keteladanan, pembelajaran kontekstual, dan pendampingan spiritual berkelanjutan. Pendidikan Kristen perlu mengintegrasikan iman, pedagogi, dan teknologi secara seimbang. Strategi pembelajaran reflektif dan dialogis membantu peserta didik membangun identitas iman yang kuat. Kolaborasi keluarga, gereja, dan sekolah menjadi fondasi penting dalam membentuk Generasi Z yang berkarakter Kristiani, kritis, dan bertanggung jawab.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/370 PERAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI RUANG PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMBENTUK SPIRITUALITAS PESERTA DIDIK DI ERA TRANSFORMASI DIGITAL 2026-05-13T10:43:13+07:00 Melvin Subay melvinsubay@staklb-manado.ac.id <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Digital transformation has significantly changed the learning patterns of younger generations, including the development of students’ spirituality through social media as a space for informal learning. This study aims to analyze the role of social media in shaping students’ digital spirituality within the context of Christian Religious Education in the era of digital transformation. The research employed a qualitative approach using a literature review method through the analysis of scholarly articles, academic books, and relevant studies related to social media, informal learning, and digital spirituality. The findings reveal that social media functions as an informal learning ecosystem that enables students to gain spiritual experiences through the consumption of religious content, faith reflection, and participation in digital communities. Social media also provides flexible, participatory, and contextual learning access that aligns with the characteristics of the digital generation. However, several challenges were identified, including superficial faith understanding, theological misinformation, and the dominance of digital algorithms. Therefore, Christian Religious Education needs to develop reflective, critical, and contextual pedagogical approaches so that social media can be utilized optimally in fostering students’ digital spirituality in a deeper and more transformative manner.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Transformasi digital telah mengubah pola pembelajaran generasi muda, termasuk dalam pembentukan spiritualitas siswa melalui media sosial sebagai ruang pembelajaran informal. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran media sosial dalam membentuk spiritualitas digital siswa dalam konteks Pendidikan Agama Kristen pada era transformasi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur melalui analisis berbagai artikel ilmiah, buku akademik, dan penelitian relevan mengenai media sosial, pembelajaran informal, dan spiritualitas digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berfungsi sebagai ekosistem pembelajaran informal yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman spiritual melalui konsumsi konten rohani, refleksi iman, dan partisipasi dalam komunitas digital. Media sosial juga memberikan akses pembelajaran yang fleksibel, partisipatif, dan kontekstual sesuai karakteristik generasi digital. Namun, ditemukan tantangan berupa dangkalnya pemahaman iman, disinformasi teologis, dan dominasi algoritma digital. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan pendekatan pedagogis yang reflektif, kritis, dan kontekstual agar media sosial dapat dimanfaatkan secara optimal dalam membentuk spiritualitas digital siswa secara mendalam dan transformative.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/356 PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENGHADAPI KRISIS IDENTITAS DIRI DAN MORALITAS PADA REMAJA DI ERA DIGITAL 2026-05-05T10:04:50+07:00 Indah Indah Indahpasput@gmail.com Hisar Parulyan berkashisar@gmail.com <p>Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan remaja. Kemudahan akses informasi, penggunaan media sosial, dan perkembangan budaya digital memberikan dampak positif sekaligus negatif terhadap perkembangan identitas diri dan moralitas remaja. Banyak remaja mengalami krisis identitas diri akibat pengaruh lingkungan digital yang kuat serta kurangnya pembinaan nilai dan karakter yang kokoh. Peran strategis dalam membentuk identitas iman dan moralitas remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena krisis identitas diri dan moralitas pada remaja di era digital serta menjelaskan peran Pendidikan Agama Kristen dalam menghadapi tantangan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui analisis berbagai buku, jurnal ilmiah, dan sumber teologis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis identitas diri dan moralitas pada remaja dipengaruhi oleh faktor lingkungan digital, budaya populer, serta kurangnya pendampingan spiritual yang memadai. Pendidikan Agama Kristen berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai iman, membentuk karakter moral, dan membantu remaja menemukan identitas diri yang berakar pada iman kepada Kristus. Oleh karena itu, pendidikan iman yang kontekstual, relevan dengan perkembangan teknologi, serta didukung oleh keluarga, gereja, dan sekolah sangat diperlukan untuk menolong remaja menghadapi tantangan era digital.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia https://ejournal.sttdp.ac.id/metanoia/article/view/382 STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN MOTIVASI BELAJAR ERA TRANSFORMASI DIGITAL 2026-05-21T09:19:21+07:00 Eddy Danukusumah eddydanukusumah@stthbi.ac.id Kimson Sianturi sianturikimson@gmail.com <p>Transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan melalui pemanfaatan teknologi informasi yang semakin luas dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, perkembangan media digital juga menghadirkan tantangan terhadap motivasi belajar peserta didik akibat meningkatnya distraksi teknologi, budaya hiburan digital, serta menurunnya konsentrasi belajar. Kondisi tersebut berdampak pada pembentukan karakter, spiritualitas, dan tanggung jawab belajar peserta didik sehingga Pendidikan Agama Kristen dituntut menghadirkan strategi pembelajaran yang relevan, kontekstual, dan transformatif di era digital modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi Pendidikan Agama Kristen dalam menghadapi tantangan motivasi belajar pada era transformasi digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka melalui analisis berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital memengaruhi pola belajar peserta didik serta menuntut pendekatan pedagogi yang adaptif, humanis, dan berbasis nilai Kristiani. Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran penting sebagai motivator, pembimbing spiritual, dan teladan dalam membangun motivasi belajar peserta didik secara holistik. Strategi pedagogi Kristen yang integratif, reflektif, dan partisipatif mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik di tengah tantangan budaya digital. Pendidikan Agama Kristen juga berperan penting dalam membentuk karakter, spiritualitas, serta etika digital peserta didik secara berkelanjutan</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Metanoia