Alucio Dei
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei
<p><strong>Alucio Dei</strong> merupakan Jurnal Teologi dengan Nomor ISSN <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1579578053">2716-2931</a> (Online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal. Jurnal ini menerbitkan hasil publikasi karya ilmiah dalam penelitian bidang Teologi yang bercirikan Injili dan Pantekosta.</p> <p><strong>Alucio Dei: Jurnal Teologi</strong> menjadi member Crosref sejak tahun 2020. Oleh karena itu semua artikel yang diterbitkan oleh Alucio Dei: Jurnal Teologi memiliki nomor DOI.</p>Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisalid-IDAlucio Dei2716-2931KETIKA LAYAR MENGGANTIKAN MIMBAR: FIRMAN DALAM BAYANG-BAYANG TEKNOLOGI
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/256
<p>Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara umat Kristen berinteraksi dengan Firman Tuhan, dari pengalaman audial dan komunal di ruang fisik menuju pengalaman visual yang terfragmentasi di layar digital, sehingga memunculkan persoalan teologis terkait otoritas mimbar, kedalaman spiritual, dan pemaknaan Firman yang kini dipengaruhi oleh algoritma serta pola konsumsi konten modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis implikasi teologis dari pergeseran penyampaian dan penerimaan Firman Tuhan dari mimbar fisik menuju media digital. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa mediasi layar dalam penyampaian Firman Tuhan menghadirkan tantangan serius terhadap pengalaman iman yang transenden, relasional, dan sakramental, karena interaksi melalui media digital berisiko mereduksi kedalaman spiritual menjadi konsumsi konten visual semata. Di sisi lain, teknologi digital membuka peluang untuk menjangkau jemaat lebih luas, memperkaya penyampaian pesan, dan menawarkan fleksibilitas interaksi, khususnya bagi generasi muda. Dengan pendekatan seimbang yang menjaga integritas teologis dan memperkuat persekutuan fisik maupun virtual, media digital dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan dan kualitas pengalaman iman tanpa mengorbankan kedalaman spiritual.</p>Reinhard YehezkielYonatan Alex ArifiantoReni Triposa
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-3110111510.55962/aluciodei.v10i1.256EKSPLORASI TEOLOGIS PENYATAAN KHUSUS ALLAH DALAM PEMAHAMAN IDENTITAS DIRI SEBAGAI IMAGO DEI
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/241
<p>Artikel ini mengkaji secara teologis penyataan khusus Allah dalam kaitannya dengan pemahaman identitas diri manusia sebagai Imago Dei. Pemahaman ini penting karena kesadaran bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah menjadi dasar bagi pembentukan identitas diri yang benar, sekaligus membuka jalan bagi pengakuan akan kebutuhan keselamatan. Seseorang yang memahami dirinya sebagai Imago Dei akan menyadari keterbatasan dan ketidakmampuannya dalam menjaga keserupaan dengan Allah akibat dosa, sehingga muncul kesadaran akan kebutuhan karya keselamatan dalam Kristus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data dari literatur berupa jurnal, artikel, ensiklopedia dan Alkitab sebagai sumber utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyataan khusus Allah, yang berpuncak dalam Yesus Kristus, memberikan dasar teologis yang kuat bagi manusia untuk memahami identitasnya dan kebutuhan akan keselamatan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman diri sebagai Imago Dei bukan hanya membentuk martabat manusia, tetapi juga menjadi langkah awal dalam perjalanan menuju keselamatan yang sejati di dalam Kristus.</p>Erlina WaruwuRogate Artaida Tiarasi Gultom
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-31101163010.55962/aluciodei.v10i1.241KONSEP PEMILIHAN ALLAH BAGI UMAT‐NYA DALAM SEJARAH DUNIA MENURUT PEMIKIRAN WOLFHART PANNENBERG: SUATU KAJIAN KRITIK DAN RELEVANSI
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/242
<p>Artikel ini mengkaji konsep pemilihan Allah bagi umat-Nya dalam sejarah dunia menurut pemikiran Wolfhart Pannenberg dengan fokus pada dimensi historis, eskatologis, dan komunitarian. Pemilihan Allah dipahami bukan sekadar status keselamatan individu, tetapi sebagai panggilan umat untuk berpartisipasi aktif dalam misi Allah di dunia dan pewahyuan diri-Nya melalui sejarah menuju penggenapan eskatologis di dalam Kristus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur yang mengumpulkan data dari Alkitab, karya-karya Pannenberg, serta literatur teologi relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pannenberg menekankan pemilihan Allah bersifat historis, komunitarian, dan misioner, berbeda dengan teologi pilihan tradisional yang cenderung individualistik. Implikasi teologi pemilihan Pannenberg bagi gereja Indonesia mencakup pemahaman panggilan Allah dalam konteks sosial, pluralitas agama, dan dinamika kehidupan modern, mendorong gereja untuk menjadi agen misi Allah yang aktif, relevan, dan kontekstual. Artikel ini menghadirkan perspektif baru yang memperkaya dialog teologi pilihan di Indonesia dengan menekankan partisipasi komunitas dalam sejarah keselamatan Allah.</p>Delima BanjarnahorRogate Artaida Tiarasi Gultom
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-31101314110.55962/aluciodei.v10i1.242INTEGRASI IMAN DAN EKOLOGI: ANALISIS EKOTEOLOGI KRISTEN TERHADAP BANJIR DAN TANAH LONGSOR 2025
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/285
<p style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span style="font-family: 'Cambria',serif;">Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah Indonesia pada akhir tahun 2025 menegaskan bahwa krisis ekologis yang terjadi dewasa ini tidak hanya bersifat ekologis dan sosial, tetapi juga merupakan krisis moral dan spiritual manusia terhadap ciptaan. Bertolak pada pemahaman di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perspektif ekoteologis antara hubungan tanggung jawab ekologis dan iman Kristen. Metode yang digunakan adalah analisis teologis-kualitatif dengan menafsirkan teks-teks Alkitab dan menelaah refleksi teologis kontemporer, khususnya ensiklik <em>Laudato Si’</em> Paus Fransiskus serta pandangan para teolog ekoteologis modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa iman Kristen mengandung mandat ekologis yang menuntut pertobatan ekologis, pengakuan terhadap nilai intrinsik seluruh ciptaan, serta peran aktif gereja dalam pemulihan bumi sebagai rumah bersama. Kesimpulannya, sintesis keyakinan agama dan pertimbangan lingkungan telah berkembang menjadi manifestasi spiritualitas Kristen yang diarahkan pada integritas komprehensif dari tatanan yang diciptakan. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya pembaruan paradigma teologi Kristen agar gereja mampu berperan profetis dan transformatif dalam menghadapi krisis ekologis masa kini.</span></p>Ayub Sugiharto
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-31101425610.55962/aluciodei.v10i1.285ANALISISIS EKSEGETIS TERHADAP BAHAYA PESUGIHAN DAN CINTA UANG DALAM PERSPEKTIF 1 TIMOTIUS 6:9-10
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/251
<p><strong>Pesugihan</strong>, sebagai praktik mencari kekayaan melalui cara-cara gaib, masih marak ditemukan dalam budaya masyarakat Jawa, meskipun perkembangan zaman dan pendidikan telah membawa perubahan nilai dalam kehidupan sosial. Fenomena ini sering kali menjadi pilihan terakhir bagi individu atau keluarga yang mengalami tekanan ekonomi dan sosial berkepanjangan. Dalam kondisi keputusasaan, mereka tergoda untuk menempuh jalan pintas demi meraih kemakmuran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pesugihan dari perspektif Alkitab, serta mengidentifikasi dampaknya terhadap kehidupan spiritual, sosial, dan ekonomi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang menelaah literatur teologis, budaya, dan sosiologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pesugihan sangat erat kaitannya dengan praktik okultisme, yang tidak hanya merusak relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga menyesatkan iman Kristen. Berdasarkan 1 Timotius 6:9–10, cinta akan uang adalah akar berbagai kejahatan. Oleh karena itu, pesugihan perlu dihadapi dengan pendekatan pastoral dan teologis berbasis iman Kristen yang mendorong pertobatan dan pembaruan hidup.</p>Andreas Sese SunarkoSariyanto Sariyanto
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-31101577410.55962/aluciodei.v10i1.251TRANSFORMASI PENGHARAPAN ESKATOLOGIS ANAK-ANAK ALLAH DI TENGAH PENDERITAAN: KAJIAN EKSEGETIS ATAS ROMA 8:18–30
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/247
<p><strong>Penelitian ini bertujuan menganalisis makna transformasi pengharapan anak-anak Allah di tengah penderitaan berdasarkan Roma 8:18–30. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika eksegetis historis-kritis, penelitian ini menafsirkan teks untuk memahami pandangan Paulus tentang relasi antara penderitaan dan pengharapan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah tanda ketidakhadiran Allah, melainkan bagian dari proses menuju kemuliaan bersama Kristus. Dalam konteks modern yang sarat penderitaan eksistensial, sosial, dan rohani, pengharapan eskatologis berfungsi bukan hanya sebagai penghiburan, tetapi juga sebagai kekuatan pembentuk ketekunan dan transformasi iman. Roh Kudus berperan aktif meneguhkan orang percaya dalam menghadapi penderitaan, mengarahkan mereka pada partisipasi dalam rencana keselamatan Allah yang kekal</strong>.</p>Tresya TresyaSugiono Sugiono
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-31101759610.55962/aluciodei.v10i1.247KONSTRUKSI POLA HIDUP ORANG KRISTEN BERDASARKAN 1 PETRUS 4:7-11 DI ERA DIGITAL
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/217
<p>Perkembangan era digital telah mengubah secara drastis cara hidup manusia, termasuk dalam aspek spiritualitas orang percaya. Transformasi ini menuntut respons teologis yang kontekstual agar umat Kristen tetap hidup selaras dengan firman Tuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengkonstruksi pemahaman teologis mengenai cara hidup orang Kristen berdasarkan 1 Petrus 4:7-11 dalam konteks digital. Dengan pendekatan kualitatif studi pustaka, penelitian ini mengidentifikasi tiga prinsip utama yang digariskan oleh Petrus, yakni: hidup dalam penguasaan diri, hidup dalam kasih, dan hidup memuliakan Allah dengan karunia. Ketiga prinsip ini memiliki relevansi tinggi terhadap tantangan etika dan spiritualitas di tengah disrupsi teknologi informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan diri menjadi dasar kehidupan doa dan kewaspadaan rohani di tengah distraksi digital; kasih menjadi nilai etis yang menuntun relasi digital umat; dan karunia digunakan secara bertanggung jawab untuk membangun tubuh Kristus melalui pelayanan digital yang bermakna. Dengan demikian, surat 1 Petrus memberikan kerangka teologis dan praktis bagi umat Kristen untuk hidup sebagai terang di tengah dunia digital yang kompleks.</p>Agus Arda Setiawan TelaumbanuaYonatan Alex Arifianto
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-311019711710.55962/aluciodei.v10i1.217PENDAMPINGAN KONSELING PASTORAL BAGI ISTRI YANG MENGALAMI KELELAHAN EMOSIONAL AKIBAT SUAMI PENGGUNA NARKOBA: SEBUAH STUDI DI PERSEKUTUAN DOA EL-SHADDAI BANDUNG
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/240
<p>Kehidupan istri yang mendampingi suami pecandu narkoba kerap kali dipenuhi dengan tekanan emosional, beban psikologis, serta pergumulan sosial dan rohani yang mendalam. Mereka hidup dalam ketidakpastian, konflik keluarga, serta stigma sosial, yang pada akhirnya menyebabkan kelelahan emosional <em>(emotional burnout</em>). Kelelahan ini berdampak pada hilangnya motivasi, ketidakmampuan mengelola emosi, hingga menjauh dari kehidupan rohani. Dalam konteks ini, gereja dipanggil untuk menjadi tempat pemulihan yang nyata, salah satunya melalui layanan konseling pastoral. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk kelelahan emosional yang dialami para istri dari suami pengguna narkoba, faktor penyebabnya, serta dampak dari pendampingan konseling pastoral terhadap proses pemulihan mereka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (<em>action research</em>) yang dilakukan di Persekutuan Doa Oikumene El-Shaddai Bandung. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap dua partisipan yang mendapatkan layanan konseling pastoral. Pendekatan konseling dilakukan secara holistik, menyentuh aspek psikologis, emosional, sosial, ekonomi, dan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menerima layanan konseling pastoral, partisipan mengalami kelelahan emosional yang berat, konflik dalam keluarga, isolasi sosial, serta penurunan kehidupan rohani. Namun setelah menerima pendampingan secara konsisten, partisipan menunjukkan peningkatan signifikan dalam mengelola emosi, membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga, mengatur kondisi ekonomi rumah tangga dengan bijak, serta memulihkan hubungan dengan Tuhan. </p>Charles Yermias BoimauLita Rahayu
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-3110111813610.55962/aluciodei.v10i1.240HAKIKAT ILAHI: KAJIAN FILOSOFIS TENTANG KESATUAN DAN ATRIBUT ALLAH
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/245
<p>Artikel ini membahas kesatuan dan atribut hakikat Ilahi dalam perspektif teologi filosofis. Pemahaman tradisional tentang kesatuan Allah dikaji terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan sifat-sifat Ilahi (atribut) sebagai cara manusia mengenal dan merespons Allah. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur terhadap sumber-sumber klasik dan modern dalam teologi dan filsafat. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesatuan hakikat Ilahi bukan sekadar kesatuan numerik, melainkan kesatuan metafisis yang mengintegrasikan keberagaman atribut Ilahi dalam satu Keberadaan Ilahi yang tunggal dan sederhana. Melalui doktrin kesederhanaan Ilahi (divine simplicity), semua atribut Allah diidentifikasikan dengan esensi-Nya, menjaga keseimbangan antara transendensi dan keimanan Allah. Kesimpulannya, pemahaman filosofis tentang kesatuan dan atribut Allah memperkaya refleksi teologis serta membantu membangun konsepsi yang koheren tentang kesempurnaan Allah.</p>Melina Agustina SipahutarRogate Artaida Tiarasi Gultom
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-3110113714410.55962/aluciodei.v10i1.245DONUTS AND THE GOSPEL: HOSPITALITY EVANGELISM IN AN INDONESIAN PIONEERING CHURCH
https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/255
<p><strong>Abstract</strong><strong>: </strong>Missions focused on church planting often encounter significant challenges, including limited human resources, financial constraints, and underdeveloped social networks, all of which hinder the optimal implementation of evangelistic strategies. Previous research demonstrates that hospitality practices play an important role in strengthening religious moderation, shaping inclusive theological paradigms, and highlighting the contextual relevance of communal meals. However, existing studies generally emphasize broad concepts of hospitality and rarely examine simple strategies such as sharing popular everyday foods within the context of pioneering congregations. This study analyzes the use of donuts as a medium of hospitality evangelism in church-planting ministries and explores its relevance for evangelism, faith formation, and congregational witness. Employing a descriptive qualitative approach with a case study design, data were collected through interviews, observations, and literature analysis. The findings reveal that distributing donuts functions not merely as a social gesture but as an effective expression of hospitality that strengthens social relationships, initiates faith conversations, and reinforces the witness of pioneering congregations within a pluralistic society. The study concludes that mission strategies need not be large-scale or complex; rather, they can be embodied through simple, grounded, and contextually relevant actions that meaningfully support contemporary church ministry.</p>Sari SaptoriniSukma Hendra Wahyudi Surahman
Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei
2026-01-312026-01-3110114515810.55962/aluciodei.v10i1.255