https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/issue/feed Alucio Dei 2026-06-15T12:59:14+07:00 Yusak Noven Susanto yusaknoven7@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>Alucio Dei</strong> merupakan Jurnal Teologi dengan Nomor ISSN <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1579578053">2716-2931</a> (Online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal. Jurnal ini menerbitkan hasil publikasi karya ilmiah dalam penelitian bidang Teologi yang bercirikan Injili dan Pantekosta.</p> <p><strong>Alucio Dei: Jurnal Teologi</strong> menjadi member Crosref sejak tahun 2020. Oleh karena itu semua artikel yang diterbitkan oleh Alucio Dei: Jurnal Teologi memiliki nomor DOI.</p> https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/305 CARA ALLAH BERKOMUNIKASI DENGAN BANGSA ISRAEL SELAMA PERJALANAN MENUJU TANAH KANAAN 2026-03-04T09:17:02+07:00 Chris Maz Destiani Gulo chrismazdestiani@gmail.com <p><strong>:&nbsp; </strong>&nbsp;Komunikasi antara Allah dan umat manusia merupakan suatu elemen yang sangat penting dalam sejarah ilahi. Sebagaimana dicatat di dalam Alkitab, Perjalanan&nbsp; bangsa Israel menuju tanah Kanaan merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Alkitab yang berhubungan dengan komunikasi Allah dan umat-Nya. Sebagai Allah yang hidup dan mengasihi umat-Nya, Ia menyatakan kehendak-Nya, memberi petunjuk, teguran, dan penghiburan kepada bangsa Israel melalui berbagai cara.&nbsp; Komunikasi tidak hanya menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya tetapi juga menunjukkan sifat Allah yang penuh kasih, keadilan, dan kesetiaan terhadap janji-Nya. Sepanjang perjalanan tersebut, Allah menggunakan media komunikasi yang beragam dan memastikan bangsa Israel tetap berjalan melalui kehendak-Nya. Cara Allah berkomunikasi dengan bangsa Israel meliputi: melalui pemimpin Israel, tiang awan dan tiang api, mukjizat, hukum Taurat dan melalui suara secara langsung. Komunukasi menjadi inti dari hubungan perjanjian yang dibangun Allah dengan Israel, sekaligus menjadi cerminan bagiamana umat dipanggil untuk merespon kehendaknya dengan iman dan ketaatan. Untuk dapat menguraikannya, penulis akan melakukan kajian pustaka deskriptif kualitatif yang didukung sumber-sumber data dari para penulis yang lainnya.</p> <p>&nbsp;</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/318 KEPEMIMPINAN KRISTEN DI ERA POP CULTURE: FORMULASI TEOLOGI KONTEKSTUAL TERHADAP TRANSFORMASI SOSIAL DIGITAL 2026-04-10T09:36:25+07:00 Raymond Hessel Stephen move_ray@yahoo.co.id Yonatan Alex Arifianto arifianto.alex@gmail.com <p>Perubahan sosial dalam masyrakat digital yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital, internet &nbsp;dan dominasi budaya populer telah memengaruhi paradigma berpikir serta praktik kehidupan beragama. Dinamika ini menghadirkan tantangan teologis ketika nilai-nilai iman harus berinteraksi dengan budaya yang berorientasi pada citra personal branding dan hiburan dalam &nbsp;konektivitas instan. Teologi kepemimpinan Kristen yang bersumber pada prinsip-prinsip alkitabiah perlu direfleksikan ulang agar tetap relevan di tengah masyarakat digital yang sarat dengan simbol dan narasi pop culture. Fenomena munculnya gereja digital, figur rohani di media sosial, serta transformasi komunikasi iman menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara kepemimpinan Kristen dijalankan dan dipersepsikan. Penelitian ini bertujuan merumuskan formulasi teologi kontekstual yang mampu menjembatani antara nilai teologis klasik dengan realitas sosial digital kontemporer. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi litertarure, maka dapat disimpulkan bahwa&nbsp; interaksi antara budaya populer dan transformasi sosial digital menuntut teologi yang kontekstual untuk memahami dinamika iman kontemporer. Paradigma kepemimpinan Kristen harus adaptif yang juga dialogis, serta berbasis relasi, memadukan otoritas spiritual dengan sensitivitas budaya digital. Model kepemimpinan kontekstual yang dihasilkan menekankan keteladanan yang berintegritas dalam iman, serta memiliki kemampuan memanfaatkan budaya populer sebagai sarana transformasi rohani dan sosial.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/221 PERAN PENGKHOTBAH SEBAGAI PENYAMBUNG LIDAH ALLAH BAGI UMAT 2026-05-26T10:03:17+07:00 Devi Triningsih triningsihdevi01@gmail.com Ayub Sugiharto sugihartoayub@gmail.com <p>Pemberitaan Firman Tuhan adalah salah satu unsur terpenting dalam kegiatan ibadah. &nbsp;Khotbah datang dari hati Tuhan, bukan dari manusia. Di zaman modern, pengkhotbah adalah seorang pendeta, gembala, atau penginjil yang ditunjuk dan dipercaya untuk menyampaikan Firman Tuhan. Pengkhotbah adalah penyambung lidah Allah atau di sebut juru bicara Tuhan karena dia berbicara atas nama Tuhan, bukan namanya sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran pengkhotbah sebagai penyambung lidah Tuhan.&nbsp; Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti menganalisis dan&nbsp; memahami lebih&nbsp; dalam mengenai pokok permasalahan. Sumber data meliputi literature yang tersedia seperti artikel jurnal dan buku. Hasil Analisa data kemudian dideskripsikan dan diperoleh kesimpulan bahwa sebagai penyambung lidah Allah, seorang pengkhotbah memiliki peran memberikan nasihat, menguatkan iman, menyatakan kebenaran, dan menegur perbuatan dosa.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/319 TRANSFORMASI GEREJA TRADISIONAL MENUJU GEREJA DIGITAL DALAM MENJAWAB TANTANGAN ERA TEKNOLOGI INFORMASI MODERN 2026-03-30T10:27:41+07:00 Elisa Nimbo Sumual esumual@yahoo.com Yohana Fajar Rahayu yohanafajarrahayu@gmail.com <p>Perkembangan teknologi informasi modern telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam ranah keagamaan. Gereja sebagai institusi keagamaan yang memiliki fungsi spiritual dan sosial turut dihadapkan pada tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika digitalisasi yang kian pesat. Pola ibadah, pelayanan pastoral, serta komunikasi antarjemaat yang sebelumnya berpusat pada ruang fisik kini mulai bertransformasi ke dalam bentuk digital yang lebih fleksibel dan interaktif. Fenomena meningkatnya penggunaan media digital oleh gereja dalam menyelenggarakan ibadah daring dan pelayanan rohani menjadi indikasi nyata dari pergeseran paradigma pelayanan keagamaan di era teknologi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi gereja tradisional menuju gereja digital serta implikasinya terhadap kehidupan beriman umat di tengah perubahan sosial-teknologis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian literatur dan analisis fenomenologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi ini bukan sekadar adaptasi teknologis, melainkan strategi eksistensial gereja dalam mempertahankan relevansi dan misi spiritualnya. Digitalisasi memungkinkan gereja menjangkau umat lebih luas, memperkuat partisipasi iman, serta menciptakan model pelayanan baru yang kontekstual dan berkelanjutan.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/306 EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA POWERPOINT DALAM PENYAMPAIAN KHOTBAH DI ERA DIGITAL 2026-03-30T09:53:05+07:00 Romensensius Djahimo romendjahimo@gmail.com Yesa Cinta yesacinta18@gmail.com <p>Di era digital, metode penyampaian khotbah mengalami perkembangan yang signifikan seiring dengan kemajuan teknologi. Salah satu media yang banyak digunakan adalah PowerPoint, yang dianggap mampu meningkatkan efektivitas penyampaian pesan khotbah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan dampak penggunaan PowerPoint dalam penyampaian khotbah di gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan PowerPoint dapat membantu seorang pengkhotbah dalam menyampaikan pesan khotbah secara lebih sistematis, menarik, dan mudah dipahami oleh jemaat. Visualisasi yang ditampilkan melalui PowerPoint dapat memperkuat inti pesan khotbah dan meningkatkan daya ingat jemaat terhadap materi yang disampaikan. Namun, penggunaan PowerPoint harus diimbangi dengan strategi yang tepat agar tidak mengurangi esensi khotbah dan tetap mempertahankan interaksi dengan jemaat. Dengan demikian, pemanfaatan PowerPoint secara efektif dapat meningkatkan kualitas penyampaian khotbah di era digital. Pemanfaatannya yang optimal tidak hanya membantu pengkhotbah dalam menyampaikan pesan dengan lebih jelas, tetapi juga meningkatkan pemahaman dan keterlibatan jemaat dalam menerima Firman Tuhan. Oleh karena itu, pengkhotbah perlu mengembangkan keterampilan dalam menggunakan teknologi ini secara bijak agar khotbah tetap memiliki dampak spiritual yang kuat dan relevan dengan kebutuhan jemaat masa kini.</p> <p>&nbsp;</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/341 KAJIAN TEOLOGIS DI TENGAH DISRUPSI TEKNOLOGI: RESPON GEREJA TERHADAP KECERDASAN BUATAN 2026-04-14T09:07:55+07:00 Martinus Loghe Bondi Martinusloghebondi2024@gmail.com <p>Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di era disrupsi teknologi membawa transformasi signifikan dalam kehidupan manusia, termasuk pola berpikir, relasi sosial, dan praktik keagamaan. Kajian ini bertujuan menelaah respons gereja terhadap AI dari perspektif teologis, etis, dan eklesiologis, serta merumuskan prinsip penggunaan teknologi yang selaras dengan iman Kristen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan metode kajian kepustakaan, mengintegrasikan teologi normatif, etika Kristen, dan konteks digital Society 5.0. Data diperoleh dari Alkitab, literatur teologi, etika, teologi digital, jurnal ilmiah, dan publikasi akademik relevan.&nbsp; Hasil kajian menunjukkan bahwa AI merupakan manifestasi kreativitas manusia sebagai imago Dei, namun tetap berada dalam konteks keberdosaan manusia (hamartiologi). AI memiliki potensi ganda: dapat menjadi sarana untuk memuliakan Allah, mendukung pelayanan, pendidikan iman, dan penginjilan, tetapi juga berisiko disalahgunakan, menurunkan kedalaman spiritual, dan mengurangi keaslian persekutuan jemaat. Perspektif kristologis menegaskan martabat manusia tidak tergantikan oleh mesin karena relasi dengan Allah, sedangkan perspektif eklesiologis menuntut gereja beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan esensi teologisnya. Perspektif eskatologis mengingatkan bahwa harapan tidak terletak pada teknologi, melainkan pada karya keselamatan Allah.&nbsp;</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/344 KRISIS IDENTITAS PEMUDA KRISTEN DI ERA POSTMODERN: ANALISIS TERHADAP FRAGMENTASI WAWASAN DUNIA 2026-04-17T09:50:18+07:00 Harvenza Widi Murmanma harvenza.murmanma@gmail.com <p>Pasca modernisme, yang ditandai oleh relativisme nilai, penolakan terhadap landasan absolut, gaya hidup konsumeris, dominasi media digital, dan identitas diri yang tidak stabil, menghadirkan tantangan nyata bagi perkembangan iman yang kokoh di kalangan generasi muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana pemuda Kristen mengalami krisis identitas di era postmodern serta merumuskan pendekatan yang relevan dalam membangun kembali identitas iman yang utuhdalam nilai alkitabiah. menggunkan metode kualitatif &nbsp;dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa&nbsp; &nbsp;fragmentasi wawasan dunia terjadi ketika pemuda Kristen memisahkan kehidupan iman mereka dari kehidupan sehari-hari. Situasi ini menyebabkan kekacauan moral, ketidakkonsistenan dalam kehidupan rohani, lemahnya kemampuan berpikir teologis, serta hilangnya makna hidup. Artikel ini menegaskan bahwa pemulihan identitas Kristen yang sejati hanya dapat terwujud melalui rekonstruksi komprehensif atas wawasan dunia seseorang, yang berlandaskan pada narasi Alkitab</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/339 SERVANT LEADERSHIP : KAJIAN EKSEGESIS YOHANES 13:1–17 BAGI TRANSFORMASI KEPEMIMPINAN KRISTEN 2026-05-11T09:48:25+07:00 Sanjay Mendra Jubil Kampus Nadeak sanjay.nadeak20@gmail.com <p>Krisis kepemimpinan Kristen kontemporer menunjukkan pergeseran dari nilai pelayanan menuju orientasi kekuasaan dan status. Kondisi ini menandakan adanya deviasi dari teladan kepemimpinan Yesus yang berakar pada kerendahan hati dan pengabdian. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi teologis yang berbasis teks Alkitab melalui pendekatan eksegesis yang mendalam dan bertanggung jawab. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan eksegesis yang bertujuan untuk menganalisis pola kepemimpinan Yesus dalam Yohanes 13:1–17 dan merumuskan implikasinya bagi transformasi pemimpin Kristen. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis eksegesis teks Yohanes 13:1–17 dalam konteks historis dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis eksegesis Yohanes 13:1–17 menegaskan bahwa tindakan pembasuhan kaki merepresentasikan kepemimpinan Yesus yang berakar pada kasih, kerendahan hati, dan pelayanan dalam konteks historis-teologis yang kuat. Rekonstruksi pola servant leadership menunjukkan paradigma kepemimpinan yang bersifat kontra-budaya dan mengintegrasikan otoritas dengan pengabdian, sekaligus mengkritik praktik kepemimpinan Kristen kontemporer yang cenderung hierarkis dan elitis. Implikasi transformasionalnya menegaskan bahwa pemimpin Kristen dipanggil untuk mengadopsi model kepemimpinan Kristus yang melayani sebagai dasar pembaruan karakter, praksis, dan spiritualitas kepemimpinan.</p> <p>&nbsp;</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/369 TRANSFORMASI MUSIK IBADAH KONTEMPORER DI ERA DIGITAL: STUDI TENTANG GENERASI Z DALAM PRAKTEK GEREJA 2026-05-12T10:28:44+07:00 Yunatan Krisno Utomo yunatan.utomo@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi musik ibadah kontemporer di era digital serta implikasinya terhadap relasi antara pengalaman estetis dan pengalaman spiritual Generasi Z dalam praktik gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis melalui studi literatur dan observasi praktik ibadah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi memperkuat dimensi estetis musik ibadah melalui peningkatan kualitas audiovisual, akses personal, dan pengalaman worship yang lebih visual serta emosional. Namun, dominasi estetika berpotensi menggeser musik ibadah dari praktik liturgis komunal menuju konsumsi spiritual individual yang tidak selalu menghasilkan pembentukan iman. Studi ini menegaskan bahwa pengalaman estetis tidak secara otomatis menghasilkan kedalaman spiritual, tetapi memerlukan integrasi dengan liturgi partisipatif, refleksi teologis, dan formasi iman. Dengan menggunakan perspektif estetika liturgis Don Saliers dan desire formation James’s K. A. Smith, penelitian ini menyimpulkan bahwa musik ibadah digital perlu diarahkan bukan hanya sebagai pengalaman artistik, tetapi sebagai medium estetis-spiritual yang membentuk orientasi iman Generasi Z secara berkelanjutan.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei https://ejournal.sttdp.ac.id/aluciodei/article/view/375 MENYELAMI MAKNA DOA BERDASARKAN YAKOBUS 5:12-20 2026-05-20T12:58:09+07:00 Yokhebed Wiratna yokhebedwiratna98@gmail.com <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa banyak orang percaya masa kini mengalami kesulitan dalam membangun kehidupan doa. Doa sering kali dipahami secara sempit sebagai sarana meminta sesuatu, padahal dalam Alkitab, khususnya Yakobus 5:12-20, doa memiliki makna yang jauh lebih dalam dan transformatif. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis teks secara eksposisi, tujuannya untuk menggali makna doa dalam Yakobus 5:12-20 kemudian dapat mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam perkembangan spiritual yang lebih berdampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doa menurut Yakobus 5:12-20 mencakup kejujuran, doa dalam segala situasi, pengakuan dosa yang membawa pemulihan rohani dan fisik, iman yang teguh, dan kepedulian terhadap sesama. Pada akhirnya, perlu kesadaran orang percaya untuk mempraktikkan doa secara holistik, sehingga doa tidak hanya menjadi aktivitas spiritual, tetapi juga sarana pemulihan, penguatan iman, dan wujud kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, doa menurut Yakobus 5:12–20 dapat menjadi fondasi bagi kehidupan rohani yang berdampak nyata dalam komunitas Kristen.</p> 2026-06-15T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Alucio Dei